[Merchandise][bsummary]
[Review][bigposts]

Era Kepresidenan Singkat Habibie



Era Kepresidenan Singkat Habibie
Era Kepresidenan Singkat Habibie
Sumber: en.wikipedia.org
Ada hal menarik yang terjadi pada era 1990-an, yaitu banyaknya anak-anak di Taman Kanak-Kanak (TK) sampai Sekolah Dasar (SD) yang bercita-cita menjadi insinyur agar dapat membuat pesawat terbang seperti Habibie. Dapat dilihat bahwa Habibie tidak hanya melekat pada orang dewasa, namun juga pada anak-anak.

Sebelum kami lanjutkan pembahasan ini, apakah kalian sudah mengenal Mars TNI? Silakan tengok disini jika kalian ingin mengenalnya.

Terdorong oleh Sejarah
Sedikit orang mengenang sosok Habibie sebagai seorang pemimpin pasca Orde Baru runtuh. Sebagian menganggap bahwa ia adalah seorang teknokrat cerdas sehingga kepemimpinan politiknya tidak secerah kepemimpinannya dalam industri teknologi seperti pesawat terbang. 

Sebagian juga menganggap ia hanya meneruskan kepemimpinan dari Soeharto sehingga tidak terdapat gebrakan politik baru. Ditambah lagi, pada era kepemimpinannya, Timor Timur lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) membuat rasa nasionalisme sebagian publik tersayat.

Habibie berkuasa kurang lebih selama 512 hari, sebuah jangka waktu pemerintahan yang pendek. Tetapi, dalam masa yang singkat, ia mampu melakukan gebrakan-gebrakan reformis-dialektis dalam bidang ekonomi, politik, hukum dan HAM serta kajian perempuan. Pada masa krisis itu ia berupaya melahirkan pemerintahan sipil yang demokratis.

Selama Orde Baru berkuasa, pers dibungkam sehingga wacana pemikiran kritis mengalami jeda dalam aliran. Tetapi, pada era pemerintahan Habibie, pers memperoleh kebebasannya lewat UU No. 40 tahun 1999 tentang pers. 

Hal diatas menjadi tonggak kebebasan pers di Indonesia yang sebelumnya dibungkam oleh rezim Orde Baru. Bukan hanya itu, jauh sebelum era Abdurahman Wahid, Habibie juga memberikan kebebasan kepada etnis Tiongkok untuk berbicara dan mengajarkan Bahasa Mandarin.

Ia juga mengadakan referendum bagi Timor Timur di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk memilih merdeka atau otonomi khusus di bawah pemerintah Republik Indonesia. 

Realitas berkata bahwa rakyat Timor Timur lebih memilih untuk merdeka dari Republik Indonesia dan pemerintahan Habibie menerimanya sebagai hasil dari dialog antara Republik Indonesia dengan Timor Timur. Sebuah keputusan politik yang membuat dirinya dirasa kurang dan dipandang sebelah mata oleh sebagian publik dan elite politik.

Ia juga meminta maaf atas pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) masa lalu guna membangun masyarakat yang adil, terbuka, dan demokratis. Tampak bahwa sejarah menggiringnya untuk melakukan pembaruan total sehingga ia tidak menyia-nyiakan waktu untuk melakukan transformasi dalam masyarakat Indonesia.

Dapat dilihat dari kebijakan-kebijakan yang ia lahirkan, bahwa kebenaran bersifat interuptif dan historis. Bergerak sangat cepat sekaligus mengejutkan sehingga banyak pihak yang belum dapat menerima kebenaran yang dihidupinya. 

Pada akhirnya, Habibie menjadi sosok yang dipandang sebelah mata dalam hal politik, namun berhasil menegakkan kebenaran sehingga berdampak secara sosial.

Tampaknya, kesetaraan dan kebebasan adalah prinsip dasar Habibie untuk mentransformasi Indonesia pasca-Soeharto. Tanpa kesetaraan dan kebebasan dalam masyarakat, demokrasi yang berlangsung hanyalah semu belaka. 

Sepertinya ia belajar dari masa kekelaman sosial-politik Jerman pada Perang Dunia Kedua sehingga ia ingin membangun sebuah masyarakat demokratis-humanis di Indonesia. Oleh sebab itu, ia menghidupi nilai-nilai demokratis dalam masa pemerintahannya agar memicu sejarah baru dalam masyarakat Indonesia.

Ia mewariskan nilai-nilai itu untuk tetap dijalankan agar tidak menjadi artefak demokrasi di masa lampau. Tak heran jika Amnesty Internasional Indonesia mengatakan bahwa jangan sampai upaya HAM yang didorong oleh Habibie terbengkalai sia-sia dan cita-cita Reformasi luntur tanpa bekas. 

Ini tanda bahwa pekerjaan Habibie belum selesai sehingga perlu dikawal sampai hari ini agar negara ini tidak jatuh ke lubang yang sama. Habibie bukan hanya bapak ilmu pengetahuan dan teknologi, melainkan juga bapak demokrasi Indonesia.

Semoga artikel ini bisa membuat Anda lebih paham dengan masa kepresidenan singkat B. J. Habibie. Meskipun tergolong singkat, namun ia tetap berupaya untuk membangun pemerintahan sipil yang demokratis. Terima kasih telah meluangkan waktu Anda.

Salam Hangat,


[TNI][twocolumns]